Selasa, 29 Juni 2021

Enggan Akui Yamaha Motor Terbaik, Bagnaia: Quartararo Jadi Pembeda!

GrandPrixPedia- Memulai start dari grid terdepan tepatnya di posisi 3 Pecco Bagnaia sempat memimpin lomba hingga lap ke 6 sebelum disalip oleh Quartararo.

Setelah disalip Quartararo ia harus berjibaku melawan Nakagami, namun pada lap ke 15 Race Director mengeluarkan informasi Long Lap Penalty untuknya karena terlalu sering melewati trek. Ia baru menjalankan sanksi tersebut pada lap ke 17 yang membuat posisinya melorot ke posisi 6. Dikuti dari Motosan.es , Bagnaia menyatakan jika tidak kena long lap penalty kemungkinan posisi yang didapatnya antara posisi 3 atau 4. Ia realistis melihat Yamaha begitu kencang di Assen. 

“Paling banyak di urutan ke-3 atau ke-4, saya harus bermain bertahan, Yamaha terlalu cepat untuk kami. Untuk mencoba bertahan dengan Fabio, saya banyak mendorong dan mudah membuat kesalahan saat Anda melakukan itu. Di paruh terakhir trek saya harus berpegangan pada Desmosedici karena tidak mau diam, dua kali saya pergi ke trek hijau (trek limit) karena angin telah menggeser saya, tetapi saya seharusnya melihatnya datang. Itu adalah kesalahan saya dan saya meminta maaf kepada tim. Hal yang sulit adalah tidak mengulangi kesalahan dalam pertarungan melawan Márquez, tidak mudah untuk berada di depannya.”

Ketika ditanya apakah Yamaha adalah motor terbaik saat ini, Bagnaia enggan mengakuinya, baginya setiap motor mempunyai keunggulan di sirkuit yang berbeda-beda. 

“Motor terbaik tidak ada, beberapa lebih kuat di beberapa sirkuit dan lainnya di sirkuit lain, tetapi Yamaha telah terbukti paling konsisten dan itu karena Quartararo berada di level yang sangat tinggi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Yamaha bukanlah motor terbaik tetapi Fabio pembalap terbaik. ”

MotoGP telah melalui 9 seri dan tiba saatnya untuk jeda paruh musim sebulan lebih. Bagnaia menutup paruh pertama musim ini dengan berada di posisi 3 klasemen sementara dibawah Quartararo dan Zarco. Ia tertinggal 47 poin dari Quartararo sebagai pemuncak klasemen. Baginya tertinggal 47 poin adalah jarak yang besar, dan ia ingin dirinya dan Ducati harus terus berkembang jika ingin menjadi juara dunia. 

“Itu banyak! Ujarnya.

“Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik, tetapi, seperti yang saya katakan, baik saya sendiri sebagai pebalap dan Ducati harus melangkah maju. Untuk memiliki kesempatan bertarung memperebutkan gelar juara, kami harus lebih berkembang lagi, mampu mengangkat lebih banyak di trek tempat kami bertarung, seperti di sini di Assen”.


 

Ad Placement